![]() |
| Rancak anyaman bambu tempat meletakkan sesaji ritual Pedagi |
Perjalanan kali ini saya akan berkisah tentang salah satu ritual komunitas Dayak di Kabupaten Sanggau. Kota Sanggau berjarak 250 kilometer dari Kota Pontianak. Tempatnya berada di tepi jalan utama dan secara administratif berada di desa Sungai Mawang, tidak jauh dari Kota Sanggau. Perjalanan saya bertepatan dengan salah satu pesta adat terbesar di Sanggau yang diadakan setiap tahun, yaitu pesta Gawai Dayak yang disebut Nosu Minu Podi.
Ritual Nosu Minu Podi sendiri dilakukan rutin setiap tahun sebagai simbol ucapan syukur terhadap hasil panen padi selama satu tahun. Meski saat ini banyak orang dayak yang tidak lagi berladang dan menanam padi, mereka yakin segala sesuatu yang mereka dapat dari hasil bumi ini wajib disyukuri dengan ritual gawai.
Sebelum memulai Nosu Minu Podi, orang dayak mengadakan ritual sakral dalam rangka meminta izin, mohon doa dan perkenan leluhur agar acara berjalan baik. Dalam ritual tahun ini salah satu pemimpin yang ditunjuk oleh warga dayak setempat. Nama aslinya Marsianus Markus Mahidin Pundung yang biasa dipanggil sebagai Kek Pundung. Beliau berasal Kampung Layau dari komunitas adat Suku Dayak Hibun. Salah satu sub suku dayak terbesar di wilayah Sanggau. Di komunitas Dayak Hibun, Kek Pundung dipercaya sebagai pemimpin tertinggi dan diberi gelar Macant Budaya. Saya berkesempatan berdiskusi dengan Kek Pundung tentang tradisi Dayak Hibun dan beberapa kisah sejarah adat budaya di komunitas Dayak Hibun, salah satunya ritual ini.
![]() |
| Kek Pundung, pemimpin adat Dayak Hibun |
Ritual yang dilakukan kali ini diberi nama mendirikan atau mendudukkan Pedagi. Pedagi adalah patung kayu yang dibuat menyerupai manusia berukuran kecil dan ditempatkan di rumah kecil yang dibangun di tempat tertentu yang dianggap sakral. Biasanya Pedagi merupakan simbol perwujudan dari tokoh penting, sepeti tokoh adat atau tokoh penting di suatu kampung atau wilayah.
Tokoh yang dibuat Pedagi kali ini adalah Mangku Dasar. Beliau diyakini sebagai perintis dan pendiri kampung Kodant, tempat dimana rumah Betang Dori Mpulor didirikan. Selain mendirikan pedagi, Mangku Dasar juga akan diberi gelar kehormatan yaitu Pengiran Mangku Macant Benua. Menurut kek Pundung, sejarahnya dulu di tempat ini adalah tembawang Kodant, Mangku Dasar pemilik tempat ini. Dia hidup, meninggal serta dimakamkan di daerah ini. Pedagi Mangku Dasar akan ditempatkan bersama pedagi Macant Nyawi dan Nek Lanai yang telah berdiri disitu sebelumnya.
Pendirian Pedagi melalui proses panjang. Biasanya diawali oleh musyawarah warga dengan arahan pemimpin adat. Selanjutnya pemimpin adat yang ditunjuk akan meminta petunjuk dari tokoh yang dibuatkan pedagi melalui mimpi. Dari mimpi itulah pemimpin adat akan diberi tahu bagaimana bentuk dan atribut yang boleh dibuat sebagai perwujudan pedagi. Bahan kayu pedagi umumnya dari kayu belian. Salah satu kayu khas kalimantan yang terkenal keras dan tahan cuaca. Sering disebut juga kayu ulin atau kayu besi. Bentuk dan rupa pedagi ditentukan, tentu tidak boleh meniru artis atau tokoh politik tertentu. Pemimpin adat, melalui petunjuk yang akan menentukan seperti apa rupa patung pedagi. Seperti pedagi Macant Nyawi yang telah ada didirikan, dibuat membawa senapan lantak. Salah satu senjata khas Dayak berupa senapan api tradisional yang digunakan untuk berburu di hutan pada jaman dulu. Diyakini Macant Nyawi merupakan pemburu yang tangguh dan piawai pada masanya dulu. Setelah pedagi selesai dibuat akan dilakukan ritual khusus untuk memanggil roh dan dimasukkan menghuni kedalam patung.
![]() |
| Ritual tabur beras kuning. |
Persiapan pendirian pedagi dimulai. Sebagai alas peletakkan sesaji dibuatlah rancak, berupa anyaman bambu atau rotan yang dibentuk seperti nampan yang dapat digantung. Rancak dibuat untuk penolak bala. Binatang hutan atau hantu Kamang dipercaya dapat mengganggu jalannya pesta gawai. Dalam rancak diletakkan berbagai sesajian berupa beras, nasi pulut atau ketan, telur, babi, ayam dan tuak. Tuak harus dibuat sendiri dari beras ketan atau pulut yang difermentasi dengan ragi. Tuak tidak boleh membeli di pasar, meski saat ini banyak tersedia di pasar. Semuanya dibuat dan disajikan dalam wadah yang terbuat dari alam seperti bambu, rotan, kayu daun dan tali serat pohon atau keramik tanah liat. Tidak boleh menggunakan wadah plastik yang modern. Selanjutnya semua pemimpin adat dari semua kampung yang hadir diundang duduk melingkar beserta tamu khusus. Masing masing pemimpin adat akan berbicara serupa mantera dengan bahasa kampung masing-masing, minta persetujuan dari roh yang dipercaya memberi perlindungan. Disela selanya Kek Pundung selaku pemimpin ritual akan berkeliling sambil menabur beras kuning dan mengibaskan seekor ayam hidup. Salah satu pemimpin adat akan mewakili mendirikan pedagi di tempatnya. Dengan iringan mantera seluruh pemimpin adat serta tabuhan gong. Setelah pedagi berdiri, seekor ayam akan disembelih. Darahnya kemudian diambil untuk membasuh Pedagi. Darah ayam dibasuhkan di kepala dan mulut patung. Dipercaya akan menguatkan roh yang telah menghuni patung pedagi tersebut. Terakhir sebagai penutup, pemimpin ritual akan mengucapkan terimakasih kepada leluhur melalui mantera. Serta mengajak seluruh yang hadir makan bersama di tempat yang telah ditentukan. Meski terlihat sederhana, persiapan sesajian sangat rumit dan banyak menyita waktu. Demikian pula rangkaian mantera yang yang diucapkan, berisi permohonan izin dari seluruh entitas yang dianggap ada di sekeliling tempat tersebut.
(Disclaimer: Tulisan ini adalah opini penulis didukung pendapat narasumber yang ditemui. Perbedaan pendapat atau sudut pandang mungkin saja terjadi. Kisah ini membagikan catatan perjalanan ke berbagai tempat, silahkan menikmati.)




No comments: