Masyarakat Dayak di Kalimantan dikenal sebagai masyarakat peladang. Sistem menanam padi tanpa irigasi ini telah dilakukan orang dayak sejak lama. Banyak cerita yang mengisahkan bagaimana kehidupan masyarakat dayak jaman dahulu. Meski minim tertulis dalam literatur berbagai catatan masih dapat ditemui. Sejak adanya perjalanan oleh orang eropa ke Borneo. Tercatat sejak tahun 1500an muncul tulisan tentang borneo. Catatan Card Bock, seorang penjelajah, naturalis asal norwegia pada 1882 menyebutkan, bagi orang dayak pertanian adalah yang utama. Dalam satu keluarga memiliki sebidang tanah di hutan. Hasil ladang cukup untuk kebutuhan selama satu tahun. Namun ketika terjadi kekeringan seperti tahun 1878, orang dayak saat itu tergantung pada umbi-umbian dan buah dan tanaman hutan.
Dalam bukunya The Head Hunters of Borneo, Card Bock menyebutkan orang dayak harus melindungi ladang mereka dari babi hutan yang banyak di kalimantan dan musuh utama padi yaitu tikus. Dari catatan lama tersebut memberikan gambaran yang jelas bagaimana berladang, menanam padi menjadi mata pencaharian utama saat itu.Dalam perjalanan kali ini, saya bertemu dengan salah seorang pemimpin adat Dayak Hibun, Kakek Pundung, menyempatkan untuk mendengar kisah yang terkait dengan perladangan dan padi. Saya bertemu kek Pundung saat dia memimpin ritual pedagi, yang merupakan ritual adat pembuka gawai Nosu Minu Podi. Kakek Pundung bercerita satu kisah yang diyakininya menjadi alasan kenapa orang dayak harus berladang dan menghormati padi. Dari kisah yang dia dengar dari kakek dan leluhurnya, padi yang sekarang ditanam di ladang orang dayak adalah padi yang dibawa oleh leluhur dari suatu wilayah yang sekarang adalah wilayah jauh di seberang lautan. Bahkan Kakek Pundung memiliki keyakinan wilayah seberang yang dimaksud adalah Thailand. Menurut kisahnya, Saat itu butir padi memiliki ukuran yang besar, padat dan memiliki roh kehidupan. Bibit padi tidak boleh diperlakukan sembarangan. Jika ingin mengambil atau menanmnya harus melakukan berbagai ritual terlebih dahulu. Penghormatan terhadap padi diwujudkan dalam tata cara dan adat berladang. Setiap tahap melalui proses spiritual yang unik. Melalui serangkaian komunikasi dengan alam sekitar yang dipercaya memiliki roh nya masing-masing. Tanah, kayu, batu, pohon memiliki jiwanya sendiri. Saat akan beraktifitas, orang dayak selalu melihat tanda tanda alam seperti suara burung dan kehadiran binatang tertentu.
Orang dayak punya kewajiban menghormati dan menjaga roh padi agar dia selalu ada, turun temurun dari generasi ke generasi. Jika tidak dijaga roh atau semangat padi akan meninggalkan tanah dan kembali ke dunia atas. Dari situlah diyakini muncul ritual yang di sering disebut gawai padi atau Nosu Minu Podi. Sejalan dengan kisah tersebut versi lain ada di Komunitas dayak Kanayatn, roh padi dipercaya dibawa oleh leluhur mereka yang bernama Ne’ Baruangk Kulup. Padi dibawa dengan pengorbanan keras sehingga bisa sampai ke bumi dari dunia atas. Perjalanan itu melalui rangkaian spritual yang panjang. Maka saat ia ditanam di bumi harus dengan semangat spiritual dan Doa. Pentingnya padi pada ritual tergambarkan pada sesajian yang digunakan saat acara. Beragam sajian melibatkan padi hasil ladang, baik dalam bentuk beras, makanan maupun minuman khas tuak.
![]() |
| Sesajian pada ritual Pedagi |
Dari kisah-kisah tersebut menggambarkan pandangan padi yang sarat nilai sakral bagi masyarakat Dayak. Sehingga menimbulkan berbagai pantangan yang menyertainya, seperti larangan membuang-buang beras dan nasi di tempat sembarangan. Pelanggaran atas beragam pantangan dapat menyebabkan kesialan, seperti gagal panen, wabah atau kecelakaan. Jika pantangan semakin banyak dilanggar maka diyakini akan membuat Roh padi menjadi semakin kecil, seiring ukurannya pun mengecil. Akibatnya orang dayak semakin kesulitan dan harus berusaha lebih keras guna mencukupi kebutuhanya. Dalam kisah Kek Pundung, orang Hibun percaya memelihara roh padi tidak hanya dengan memperlakukannya secara hormat. Namun perilaku manusia juga harus jauh dari permusuhan. Semakin banyak orang berselisih maka roh padi akan semakin takut dan lari dari bumi. Maka saat pesta Nosu Minu Podi harus menghindari perselihan, perkelahian dan keributan.
Kisah padi diatas mengingatkan masyarakat jaman TikTok dan Instagram saat ini bagaimana memperlakukan alamnya. Alam yang mendukung kebutuhan kehidupannya. Terdapat pemaknaan bahwa mengelola namun tidak sembarangan dalam mengambil manfaatnya. Harus sadar dan selalu mengukur kebutuhan secukupnya. Jika terlalu banyak dan serakah akan mengundang berbagai permasalahan. Alam telah menciptakan konsekuensi apa yang telah dibuat. Dalam kisah padi digambarkan hukuman diberikan oleh alam dengan perubahan ukurannya yang mengecil. Mitos Padi menciptakan aturan yang memuat larangan magis menjadi cara ampuh menjaga hubungan manusia antar sesama dan lingkungannya. Seperti nilai hukum yang selalu punya konsekuensi. Aturan batas perilaku yang harus ditaati, melanggar berarti siap bertanggungjawab. (ca)
(Disclaimer: Tulisan ini adalah opini penulis didukung pendapat narasumber yang ditemui. Perbedaan pendapat atau sudut pandang mungkin saja terjadi. Kisah ini membagikan catatan perjalanan ke berbagai tempat, silahkan menikmati.)


No comments: