![]() |
| Suasana pekarangan rumah di Sengkubung. |
Jalanan berliku, panjang, panas, dan berdebu. Itulah gambaran perjalanan kali ini. Itu belum lengkap, banyak jalan sisa aspal yang sudah rusak dan ditimbun tanah merah. Jalanan berdebu hebat. Bulan mei tahun ini hujan terasa enggan menyapa bumi kalimantan, mungkin sudah bisa dikatakan kemarau. Sudah mendekati dua minggu tidak diguyur hujan. Kalaupun ada hanya sebagian kecil dengan intensitas sangat ringan. Perjalanan ini dimulai dari Desa Merbang menuju kampung Sengkubung di Belitang Hulu. Tidak sendiri, saya bersama keluarga. Belitang Hulu adalah kecamatan paling ujung utara yang secara geografis perbatasan sekadau sintang. Misinya adalah ikut gawai kampung. Selama tinggal di Kalimantan, belum pernah mengikuti gawai di kampung. Gawai merupakan pesta syukur terhadap panen yang setiap tahun diadakan masyarakat dayak di Kalimantan.
Kabupaten sekadau memiliki banyak perkebunan kelapa sawit. Tidak heran jalan utama disini lebih ramai dengan truk pengangkut buah sawit dan truk tangki angkutan CPO. Ini juga yang menambah kondisi jalan lebih cepat rusak. Dari desa Merbang kami tidak lewat jalan utama, karena terlalu jauh. Kami memilih jalan lama berupa tanah yang ditimbun pasir dan batu. Tidak merata, masih banyak yang bergelombang dahsyat akibat hantaman truk angkutan buah sawit. Namun di musim kering saat ini relatif bisa dilalui kendaraan roda dua. Mobil bisa lewat, namun harus lebih mahir dan siap-siap untuk kerja keras jika mendadak diguyur hujan. Entah jika sudah masuk musim hujan. Bisa jadi jalan ini akan segera berubah menjadi kubangan lumpur kembali, seperti tahun-tahun sebelumnya. Jalan ini masih jalan kabupaten, karena merupakan jalur alternatif yang lebih singkat dari Kota Sekadau, kecamatan Sekadau Hilir dan Kecamatan Belitang Hilir. Setelah belasan kilomerter jalan mulai sedikit nyaman saat tiba di Tapang Pulau. Persimpangan yang menghubungkan ke Sungai Ayak, ibu kota kecamatan Belitang Hilir. Dari sini jalan mulus beraspal. Sayangnya tidak jauh, saat di perbatasan ke Belitang Hulu, tibalah penderitaan kami menemui jalanan rusak berkepanjangan. Meski masih bisa dilalui dengan lancar, namun jarak yang masih jauh membuat badan terasa penat. Ditambah lagi matahari terik serasa membakar kulit.
![]() |
| jalan raya Sekadau Hulu |
Perasan lega terasa saat tiba di ibu kota kecamatan, Balai Sepuak. Kota kecil dengan akses jalan aspal satu-satunya melewati deretan pasar dan pusat administrasi kota, gambaran sebagian besar kota kecamatan di Kalimantan. Balai sepuak dilalui sungai yang cukup besar. Sayangnya warna airnya tampak tak layak untuk digunakan, berampur lumpur seperti kopi susu. Kabarnya banyak tercemar limbah tambang emas liar di sekitar wilayah ini. Beruntung ada jembatan tua yang kondisinya mengkhawatirkan masih dapat dilalui. Hanya berukuran satu jalur mobil. Sehingga musti bergantian jika berpapasan. Meski rangka besinya masih nampak kokoh, kondisi kayu pelapis lantai jembatan sudah rusak. Patah, pecah dan banyak ditambal seadanya. Sebagian diikat sementara menggunakan rantai dan tali. Jika dilewati suaranya berderak seperti pondok yang roboh menimpa ranting pohon kering. Jembatan ini merupakan akses darat satu-satunya menuju beberapa kampung di uung wilayang Belitang Hulu, termasuk Sengkubung. Yang lebih mengkhawatirkan jembatan ini juga menjadi akses utama truk angkutan sawit membawa komiditi ke wilayah Sekadau.
![]() |
| Jembatan ikonik Balai Sepuak. |
Kampung ini kecil, luasnya hanya tiga sampai empat hektar. Terdiri atas pekarangan, kebun buah dan rumah penduduk. Halaman rumah dipenuhi dengan berbagai pohon buah. Banyak pohon cempedak, nangka dan pohon durian di bagian belakang. Pohon durian di sini rata-rata berusia lanjut tua. Pengakuan warga, durian disini paling tidak sudah berusia tiga generasi. Pohonnya sudah tinggi-tingi. Suasana di bawah rindangnya pohon menjadi penyejuk di tengah lahan perkebunan. Kampung ini memang dikelilingi perkebunan sawit. Di ujung kampung ada sungai kecil dan sedikit hamparan hutan di seberang sungai. Di sini warga menyebutnya kampungnya Sengkubung lama. Kisahnya, ada kampung baru yang berisi warga yang memilih meninggalkan kampung Sengkubung tinggal bergeser keluar mendekati akses jalan utama. Penyebabnya infrastruktur kampung lama yang tidak kunjung membaik. Di sini listrik tidak ada. Sinyal selular kembang kempis, bahkan hampir nol. Kalaupun ada musti meletakkan HP di tempat tertentu dan menunggu sinyal menyapa. Persis lagu “ngaga’ sinyal” yang sempat viral beberapa tahun lalu. Rumah yang masih tersisa di kampung lama lima keluarga. Ada diantaranya yang sudah tua jadi enggan pindah. Namun kabarnya lima keluarga yang tersisa pun akan segera pindah ke luar kampung. Menurut orang-orang tua yang masih ada, pindah rumah sebetulnya lumrah terjadi. Sejak saat mereka masih ada yang sempat tinggal bersama di rumah betang, rumah khas orang dayak jaman dulu. Mereka pindah umumnya karena kondisi rumah yang sudah lapuk dan tidak bisa diperbaiki. Atau serangan wabah penyakit yang sulit diatasi. Jaman dulu belum ada vaksinasi dan obat obatan memadai, sehingga wabah sangat mudah menjalar dalam satu komunitas rumah panjang.
![]() |
| Sisa rumah yang ditinggalkan. |
Di sini kami ikut pesta gawai. Acara ini diadakan setiap tahun. Uniknya apapun kondisinya, sesulit apapun situasi ekonomi, warga disini tetap menyempatkan ikut gawai. Budaya pesta gawai memang sudah menjadi budaya sejak jaman dulu. Meski sekarang banyak terdapat berbagai perubahan. Sekarang pesta gawai di Sengkubung tidak lagi mengadakan ritual adat tertentu. Tidak ada syarat secara spiritual yang mengharuskan menyediakan atau pantangan khusus. Pesta gawai disini saat ini dimaknai sebagai sarana berkumpul warga. Satu kampung umumnya memiliki banyak kekerabatan satu sama lain.
Rumah warga disini masih terbuat dari kayu dan papan. Lantai panggung dan sekat kayu. Kami bermalam di rumah paman Zakaria, bersama anak-anak dan kerabat. Suasana pesta gawai penuh kesederhanaan. Diisi dengan saling berkunjung antar keluarga, tetangga dan kampung yang lain. Mereka saling berbagi cerita tentang pengalamannya. Kondisi pekerjaan, hasil panen dan berbagai persoalan akan saling dibagikan. Kabar kesehatan dan kabar keluarga saling diceritakan. Bagi warga yang sudah merantau, pulang kampung saat gawai menjadi nostalgia kehidupan masa kecilnya. Sesekali ada anak-anak muda yang menghidupkan musik dengan volume keras, menurut mereka agar hari gawai semakin meriah. Untuk anak-anak yang lahir dan besar di perantauan, gawai menjadi liburan pulang kampung dengan pengalaman baru.
Saat gawai beberapa hidangan tradisional masih dibuat. Seperti kue lulunt. Kue serupa jajanan pasar yang terbuat dari beras pulut atau ketan. Lulunt yang lezat berasal dari beras ketan yang baru dipanen dari ladang. Diolah secara tradisional ditumbuk halus, diberi gula dan air, diulen lalu dibungkus daun pisang dan dikukus. Semakin baik mutu berasnya semakin lembut dan kenyal hasilnya. Rasanya legit dan manis khas makanan tradisional nusantara. Tidak semua keluarga mampu menanam padi biasa dan padi pulut sekaligus. Hasil panen lebih ladang tak menentu. Jika kondisi cuaca yang kering tanpa hujan membuat tanah keras dan akar padi sulit tumbuh. Jika tidak ada air sama sekali padi biasanya tidak berisi, kering dan mati. Belum lagi serangan hama tikus yang banyak, sulit memberantasnya. Saat ini mau tidak mau warga menggunakan pestidida untuk mempermudah proses menanam. Ini membantu memperlambat tumbuhnya gulma pengganggu dan sarang tikus. Namun jika hama terlalu banyak, nyaris tidak ada yang selamat. Akibatnya bisa gagal panen. Itulah yang menyebabkan banyak ladang semakin sedikit. Faktor cuaca yang selalu berubah ikut berpengaruh. Dahulu orang dayak selalu berpatokan dengan musim yang konsisten setiap tahun. Saat ini musim kemarau sering lebih panjang dan lebih kering. Jumlah yang mau berladang juga semakin berkurang. Berladang memiliki resiko gagal cukup tinggi dan keuntungan sedikit membuatnya tidak diminati. Apalagi banyaknya peralihan lahan guna perkebunan semakin mengurangi ladang. Mekanisme lahan hilir balik yang dahulu digunakan sebagai cara menyuburkan tanah dan menghindari hama sulit dilakukan. Sekarang, banyak anak muda yang lebih memilih bekerja di perkebunan, atau merantau. Bagaikan simalakama, karena tanpa ladang orang dayak kehilangan siklus utama kehidupan.
![]() |
| Keluarga besar kumpul gawai di Sengkubung. |
Menurut Pak Bernadus yang kami temui, salah satu orang tua di kampung Sengkubung, dahulu saat masih tinggal di rumah betang, hampir setiap keluarga memiliki lumbung. Saat selesai panen, sebelum padi dikonsumsi akan dilakukan pesta gawai. Ia menuturkan, Pesta dilakukan setahun sekali, pada bulan keenam. Selama setahun warga betang tidak diperbolehkan mengadakan pesta pernikahan sendiri diluar waktu pesta gawai padi. Pesta pernikahan akan digabung dengan pesta gawai padi pada waktu yang sama. Hal ini dilakukan membuatnya semakin meriah serta dapat menghemat biaya. Ketika rumah-rumah sudah menyebar dan tinggal di tempat sendiri, aturan itu sudah tidak ada lagi. Semangat pesta gawai padi juga banyak mengalami perubahan. Proses ritual yang sarat simbol spiritual mulai berkurang. Tidak adanya komunitas di rumah betang membuat tatanan sosial turut berubah. Pemaknaanya sebagai ungkapan syukur terhadap panen hasil bumi perlahan turut berkembang. Tidak hanya bersyukur terhadap panen namun menjadi simbol seni dan budaya Dayak. Gawai di kampung Sengkubung juga akan berbeda. Suasana kampung yang baru, dengan perubahan lingkungan di perkebunan. Sengkubung berubah menyisakan detik-detik waktu tersisa.(ca)
(Disclaimer: Tulisan ini adalah opini penulis didukung pendapat narasumber yang ditemui. Perbedaan pendapat atau sudut pandang mungkin saja terjadi. Kisah ini membagikan catatan perjalanan ke berbagai tempat, silahkan menikmati.)





No comments: