![]() |
| Debu jalanan, penyumbang masuk angin |
Perjalanan yang jauh dan kondisi jalan rusak membuat badan lekas lelah. Cuaca kering yang panas dan menyengat menambah capek makin berat. Ditambah lagi debu sisa kendaraan lewat sepanjang jalan perkebunan sawit serasa mencekik pernapasan. Begitulah gambaran kami saat menempuh perjalanan ke kampung Sengkubung, Belitang Hulu, Kabupaten Sekadau. Bagi warga asli daerah ini bisa jadi tidak menjadi kendala. Kondisi ini mereka terima sekian lama hingga menjadi makanan sehari hari. Namun bagi kami ini seperti mengikuti ajang rally di gurun pasir, panas menyengat yang melelahkan.
Saat kami tiba di kampung Sengkubung sore mulai turun. Cuaca yang semula panas menyengat perlahan berubah dingin menusuk. Sejuk khas iklim hujan tropis. Meski dikelilingi perkebunan sawit, pohon-pohon yang tinggi di sekitar pemukiman masih menyisakan hawa sejuk hutan saat malam hari. Kondisi tubuh yang letih membuat cuaca dingin menjadi bertambah menusuk. Akibatnya badan mulai mengigil, stamina menurun. Bagi orang dewasa adaptasi tubuh relatif lebih mudah, paling tidak sistem pertahanan tubuhnya tentu lebih baik. Namun bagi anak anak dan balita, perubahan cuaca dapat seketika menyebabkan flu dan demam. Jika sudah demikian datanglah penyakit asli nusantara, masuk angin. Kondisi badan meriang dan serasa pegal.
![]() |
| Akses jalan perkebunan sawit yang panas dan kering |
Bagi orang Sengkubung, sakit masuk angin akrab ditemui sehari-hari. Aktifitas fisik mereka yang berada di hutan dan alam terbuka membuat cepat tubuh menjadi lelah, datanglah masuk angin. Bagi anak balita kondisinya lebih merepotkan. Rewel dan gelisah membuat resah orang tua. Sementara tubuh butuh istirahat, tapi meriang tidak nyaman tak mau lenyap. Namun bagi di Sengkubung, warga punya cara tradisional yang ampuh menyembuhkan masuk angin. Jika orang dewasa dengan cara kerokan, berbeda untuk anak balita. Orang Sengkubung menggunakan cara unik mengusir masuk angin bagi anak-anak. Kami mendapatkannya dari paman dan bibi yang telah lama mempraktekkan tradisi ini. Silahkan simak, barangkali berguna suatu saat.
Yang dibutuhkan untuk resep ini adalah, koin kuno, semakin kuno dianggap makin manjur. Biasanya menggunakan koin benggol atau koin Belanda jaman dulu. Kemudian kain bersih, telur ayam dan air bersih. Pertama-tama telur ayam direbus hingga matang. Setelah matang sempurna, telur ayam dikupas dalam kondisi hangat. Kemudian kepingan uang koin di benamkan kedalam telur yang telah dikupas. Dalam kondisi hangat ayam berisi koin dicelupkan kedalam air bersih dalam mangkok. Perlahan-lahan diusapkan ke seluruh tubuh anak. Mulai dari kepala, tangan, badan dan seluruh kaki. Ini bisa dilakukan berulang kali sampai dirasa merata.
![]() |
| proses kerokan menggunakan telur ayam |
Selanjutnya bagian yang menarik. Untuk memeriksa dan memastikan bahwa si anak sudah diambil anginnya, telur dibuka dan koin kuno dilihat. Jika terdapat bagian koin yang berwarna gelap, kehitaman tandanya angin sudah diambil. Terperangkap ke dalam koin. Selanjutnya jika diyakini masih tersisa angin di dalam tubuh, proses diulangi, koin dicuci dan kembali dimasukkan ke dalam telur. Prosesnya kembali sampai tubuh dirasa lebih nyaman, hilang masuk anginnya.
![]() |
| Bercak kehitaman pada koin kuno |
Cara tradisional yang unik ini sudah dilakukan turun temurun. Orang Dayak di Sengkubung meyakini cara ampuh ini dari generasi nenek moyang dulu. Bagi masyarakat modern tradisi ini tentu lebih dianggap tak masuk akal. Generasi Instagram sekarang terbiasa mengkonsumsi obat jika merasa meriang atau flu. Bahkan, sedikit saja pusing sering langsung mempercayakan pada obat sakit kepala, buru-buru ke warung beli Bodrex, atau sejenisnya. Dari kampung Sengkubung terlihat bagaimana peran bahan herbal sangat penting untuk mengobati sakit-sakit ringan. Tanpa efek yang merugikan atau ketergantungan bagi tubuh pasien.
Kearifan lokal pengobatan herbal seperti ini selayaknya menjadi pelengkap alternatif penyembuhan dengan memanfaatkan bahan yang tersedia. Di tengah realitas biaya pengobatan serta akses layanan kesehatan yang sulit, warga Sengkubung masih memiliki daya mempertahankan cara tradisionalnya sendiri. (ca)
(Disclaimer: Tulisan ini adalah opini penulis didukung pendapat narasumber yang ditemui. Perbedaan pendapat atau sudut pandang mungkin saja terjadi. Kisah ini membagikan catatan perjalanan ke berbagai tempat, silahkan menikmati.)




No comments: