Desa Umin, terletak kurang lebih 45 km
dari pusat kota Sintang Kalimantan Barat. Penduduk Desa Umin menyebut
dirinya Orang Dayak Desa. Sejarah
Orang Dayak Umin karena masyarakat yang pindah dan bermukim di sekitar
sungai Umin. Ada beberapa rumpun atau kelompok Orang Umin. Umin
Ngelay, Umin Letang,
dan Umin Dewan tinggal
di daerah perhuluan sungai.
Selain berladang, salah satu keahlian sebagian warga desa Umin adalah membuat kain tenun. Penenun di Umin sebagian besar adalah kaum ibu-ibu. Itu dilakukan mereka di setelah pulang dari ladang, atau waktu senggang lainnya. Kegiatan menenun menjadi salah satu ciri khas kaum perempuan di desa Umin. Suasana gembira, sambil bersenda gurau menjadi selingan di sela-sela menenun. Saat itulah ibu-ibu saling berbagi kisah dan cerita dengan warga yang lain.
![]() |
| Menenun disela kesibukan. |
Sebelum
rangkaian upacara adat mandikan anak ke sungai dilakukan adat
upacara adat Pekejang.
Pekejang dilakukan
setiap upacara mandikan anak, motong gigi, motong rambut. Pekejang
diisi dengan membacakan Kana
secara bersahutan antara tamu undangan dari desa sekitar dan tuan
rumah. Maksud dari bekana adalah saling memberi dan menerima dengan
sebaik-baiknya, dan apa adanya. Tidak membedakan yang kaya dan yang
miskin, karena mereka satu keluarga. Satu keluarga yang berkumpul
untuk keselamatan anak yang hendak dimandikan. Dalam Bekana, maksud
dan tujuan Kana disimbolkan dengan berbagai hal. Dalam Kana
ini disimbolkan sebuah kapal yang datang dari Jawa, atau dari jauh
yang membawa barang berupa bram
( tuak). Setelah menerima Tuak tersebut disembelih babi atau ayam
yang darahnya ditampung di sebuah mangkok dan dimaterai. Ada juga
piring yang jumlahnya lima atau tujuh buah. Mangkok dalam Pekejang
disimbolkan sebagai tanda anak yang akan dimandikan diharapkan dapat
bersatu, bergaul dengan orang lain kelak kemudian hari. Ada juga
simbol burung Kenyalang
(burung khas pul;au Kalimantan) yang dimaksudkan harapan semangat
anak yang tinggi, sesuai dengan burung kenyalang yang suka terbang
tinggi. Hidup anak diharapkan senang, murah rejeki, tidak
sakit-sakitan, dan hidupnya tetap kaya. Dimana si anak pergi merantau
dia tidak susah mencari rejeki. Untuk mewujudkannya disimbolkan
dengan semua yang hadir meminum Bram, memberi rejeki untuk anak
dengan melalui satu mangkok yang memrpersatukan semua. Minum Bram
juga dimaksudkan menghindarkan dari marabahaya, penyakit, sial atau
hal buruk. Bram yang terbuat dari padi yang tetap tumbuh walaupun
cuaca panas dan dingin. Semua tamu atau keluarga diharapkan dengan
kebersamaan dan menghindari perselisihan.
Setelah
rangakaian adat Pekejang,
Esok harinya dilakukan adat begendang. Adat ini adalah proses
menumbuk beras pulut atau ketan yang akan digunakan untuk upacara
adat mandikan anak esok hari. Begendang dilakukan dua kali. Yang
pertama pada sore hari dan subuh keesokan harinya. Begendang
dilakukan oleh ibu-ibu yang anaknya dimandikan dan remaja putri.
Dalam menumbuk beras pulut, dilakukan tujuh kali putaran. Ditandai
dengan membunyikan senapan rakitan yang digunakan untuk berburu,
yaitu lantak.
Selanjutnya para ibu dan remaja putri akan pergi turun kesungai
dimana akan dilangsungkan upacara mandikan anak keesokan harinya. Hal
ini dimaksudkan untuk membersihkan tempat upacara dari segala
keburukan.
Setelah
adat begendang,
selanjutnya melakukan sengkelan. Sengkelan
dimaksudkan sebagai permintaan agar semua sesaji, atau benda yang
akan dipakai pada upacara mandikan anak diterima dan memberi
keberkahan dari betara atau
Tuhan. Kemudian ada adat bedara'
yang dimaksudkan agar tidak ada kekuatan lain yang akan mengganggu
keselamatan anak. Selain di sengkelan, semua perlatan yang hendak
dipakai dipersiapkan sebaik mungkin. Termasuk senapa lantak akan
dibersihkan dan diperiksa. Senapan lantak akan dibawa dan dibunyikan
oleh laki-laki keluarga sang anak.
Anak-anak yang akan
dimandikan dibawa ke tepi sungai diantar oleh anggota keluarga dan
diiringi dengan bunyi tabuhan alat musik. Upacara mandikan anak
dimulai dengan menaburkan sesaji ke sungai, kemudian menceburkan
seekor anjing. Karena anjing sebagai binatang penjaga diyakini
memiliki penciuman yang tajam sehingga mampu menjaga sang anak. Anak
satu persatu dimandikan oleh perempuan yang dituakan dan ditunjuk.
Dimulai dari keluarga tertua sampai kepada keluarga termuda di desa.
Saat anak dimandikan senapan lantak akan diletuskan. Dimaksudkan
supaya anak tidak terkejut saat mendengar suara yang keras seperti
guntur atau petir.
Setelah anak dimandikan di sungai
dilanjutkan dengan memberi air di kepala sang anak saat naik ke
rumah. Hali ini simbol dari harapan agar si anak sehat, berumur
panjang dan murah rejeki. Seluruh prosesi ditutup dengan menombak
seekor babi. Anak diambin atau digendong oleh keluarga yang
dituakan, yang belum pernah ditinggal mati suami atau istri. Prosesi
ini melambangkan penebusan. Anak dibebaskan dari berbagai pantangan
yang sebelumnya ada. Pantangan saat dikandungan ibunya, atau
perbuatan bapak nya yang kurang baik, sehingga si anak bebas
beraktifitas dimana saja baik di desa atau nanti saat dewasa.(23/Mei/2016)

No comments: