Masyarakat Dayak Kantu' Kabupaten
kapuas hulu memiliki adat perkawinan yang memiliki simbol persatuan,
kekekalan dan sakral. Prosesi adat perlawinan selalu dimulai dengan
penjemputan pengantin diselingi tarian adat. Jika proses perkawinan
dilangsungkan di rumah mempelai pria, maka yang akan dijemput adalah
mempelai wanita.
Penjemputan mempelai dilakukan dengan perahu yang
dihias indah yang disebut perahu lundai atau perahu alat. Perjalanan
perahu diiringi musik dan tarian. Dalam prosesi perkawinan adat pada
umumnya, mempelai, orang tua, keluarga serta seluruh pengiring
mempelai menggunakan baju adat. Pakaian adat Kantu' umumnya terbuat
dari tenunan, yang membentuk pola-pola ukir khas dayak kantuk.
Pewarnaan kain tenun juga masih menggunakan warna-warna alam.
Penggunaan perahu pada adat perkawinan kantu' memiliki cerita yang
dikisahkan turun temurun. Pada jaman dulu seorang gadis bernama Balun
Belundan melangsungkan perkawinan dengan seorang lelaki bernama
Apai karung besi. Apai karung besi melakukan perjalanan untuk
memjemput Balun Belundan. Setelah melalui perjalanan darat yang
panjang, rombongan Apai karung besi harus melanjutkan perjalanan
melalui sungai. Maka dibuatlah sebuah perahu. Sebagai pertanda pada
perahu harus ada penari dan memasang bendera dari kain tenun.
Sampai saat ini prosesi perkawinan
masih dilestarikan. Setelah arak-arakan perahu, upacara dilanjutkan
dengan upacara Ngelalu ke Pengabank. Yang bermakna menyambut
undangan yang datang. Para tamu yang datang akan dipersilahkan naik
ke rumah panjang atau Balu Alu yang sebelumnya akan disuguhkan
tuak, minuman khas dayak.
Seluruh rangakaian upacara perkawinan
dilakukan setelah melalui adat proses pinangan.
***
Konten ini dibuat pada saat peliputan di rumah Betang Panjang di Kota Pontianak, di jalan Sutoyo. Produksi dilakukan bersama-sama pada saat peliputan program acara Televisi, Ruai TV.
No comments: