Hasil Pencarian

Bedudu; Senandung Syair dari Betang Ensaid

Thumbnail
 

Wilayah ini memiliki sebuah ikon, bukit batu raksasa. Merupakan keajaiban geologi karena sebuah bongkahan batu monolit utuh seluas ± 520 hektar, dengan tinggi 1.002 meter di atas permukaan laut. Disebut orang Sintang Bukit Kelam. Jaraknya 40 km dari Kota Sintang. Sintang kabupaten dengan Luas Wilayah: ± 21.638 km², menjadi kabupaten terluas ketiga di Kalimantan Barat.

Di sekitar bukit Kelam banyak terdapat pemukiman komunitas Dayak. Salah satunya berada di rumah betang Ensaid Panjang. Bangunan merupakan rumah yang panjangnya sekitar 118 meter ini terdiri atas 29 bilik (pintu). Setiap bilik dihuni oleh satu kepala keluarga, sehingga puluhan keluarga hidup bersama dalam satu atap. Kehidupan komunitas dayak di betang Ensaid melahirkan kesenian dan peninggalan budaya. Banyak peninggalan tradisi kesenian yang ditinggalkan menjadi tradisi yang masih dilakukan sampai saat ini. Salah satunya karya sastra Bedudu.

Saya mengenal seni Bedudu melalui pekerjaan. Film ini merupakan satu dari beberapa film dokumenter yang saya buat bersama 
tim Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) XII Kalimantan Barat dalam produksinya. Film ini merupakan program BPK XII dalam melakukan pencatatan karya budaya. Selain itu film ini dibuat untuk mencari maestro budaya dayak sebagai upaya pelestarian. Saya terlibat dalam proses produksi film ini dalam proses pengambilan gambar, penggalian narasumber dan paska produksi. Pengambilan video dilakukan selama kurang lebih satu minggu produksi di lokasi Ensaid panjang. Dengan bertemu langsung masyarakat ensaid panjang kami dapat merekam dan memahami beragam aktivitas asli orang dayak Iban di edsaid. Tidak hanya bedudu, beragam cara kehidupan tradisional orang dayak iban kami temui. 

Bedudu masa awalnya merupakan karya sastra berupa syair yang hadir saat menyambut tamu dan pesta-pesta. Dalam pesta gawai seni bedudu sering dipertontonkan. Naskah bedudu berisi dapat berisi cerita tentang berbagai hal. Bisa tentang perjodohan, pergaulan sampai sejarah pendirian rumah betang. Di dalamnya diceritakan bagaimana orang-orang dayak berkumpul untuk merencanakan mendirikan rumah betang. Dalam pesta gawai bedudu berisi ucapan syukur atas hasil panen yang didapatkan setahun ini. Syair Bedudu menggunakan bahasa kiasan yang berbeda dengan bahasa sehari-hari. Kalimat yang digunakan bedudu mengandung makna dan penafsiran tertentu. Sehingga bagi masyarakat kebanyakan cukup sulit untuk memahaminya.Jaman dulu bedudu Dilantunkan semalam suntuk. Sering ada saat pesta gawai. Disertai dengan makanan dan minuman khas dayak yaitu tuak. Bedudu sendiri memiliki kemiripan dengan bekana. Meski nadanya berbeda namun proses melantunkannya serupa.

Saat ini pelaku seni Bedudu sangat langka. Di Dusun Rentap Selatan ini salah satu penutur Bedudu yang masih ada adalah Hermanus Bintang. Selain bedudu pak Bintang juga mahir seni Bekana. Beliau mengenal seni sastra ini secara otodidak. Kehidupannya di sejak kecil di komunitas dayak membuatnya sering berkumpul dengan para orang tua yang sering menuturkan karya sastra. Bagi generasi otrang tua di ensaid umumnya masih memahami seni bedudu. Mereka masih mampu menafsirkan kalimat yang dimaksud dalam syair. Namun melantunkannya memerlukan keahlian khusus.

Minat generasi muda yang lebih tertarik dengan kesenian modern menjadi faktornya. Jumlah penutur seni tutur di komunitas masyarakat dayak juga sangat sedikit. Minimnya catatan tertulis dan pemahaman arti makna dan penafsiran kata membuatnya relatif sulit dipahami. Sehingga proses belajar yang lama serta metodenya yang tradisional membuatnya sulit bertumbuh di kalangan generasi saat ini.

Kehidupan Dayak Iban di desa Ensaid merupakan aktifitas tradisional. Sehari hari orang dayak ensaid sibuk berladang. Membuka lahan dan menanam padi di ladang yang terletak di sekitar rumah Betang. Keseharian yang sederhana menjadi bentuk kehidupan yang menyatu dengan alam. Berladang, mencari ikan, serta mencari beragam hasil di hutan sekitar membuat orang Dayak Iban di Ensaid menjadi pelestari bagi tradisi Dayak. (ca)

***

In memoriam Kakek Hermanus Bintang, penutur Bedudu terakhir di Ensaid Panjang. Beliau meninggal sekitar satu tahun setelah film ini dibuat. Meninggalkan warisan Syair Bedudu yang telah dikukuhkan sebagai Warisan Budaya tak Benda (WBTB) dari KEMDIKDASMEN pada tahun 2022.


(Disclaimer: Tulisan ini adalah opini penulis didukung oleh data dan pendapat narasumber yang ditemui. Perbedaan pendapat atau sudut pandang mungkin saja terjadi. Kisah ini membagikan catatan perjalanan ke berbagai tempat, silahkan menikmati.)

No comments:

Banner Pop-up