Hasil Pencarian

Rumah Thjia, catatan sejarah saudagar Tionghoa di Singkawang

Thumbnail

Singkawang dikenal sebagai kota multi kultur. Sejak kedatangan orang-orang cina pada abad 16 singkawang menjadi sebuah kota dagang yang berkembang. Mereka banyak bekerja sebagai tambang emas yang kemudian banyak beralih menjadi petani dan mengolah komoditi alam lainnya. Para imigran hidup dan berkembang bersama masyarakat asli wilayah singkawang, orang melayu dan dayak. Puncaknya saat Sultan Sambas secara besar besaran mendatangkan imigran dari cina pada abad 18. Para imigran yang diperkerjakan sebagai penambang emas mulai mewariskan beragam tradisi dalam kehidupan di kota singkawang. Pada masa pemerintah kolonial Belanda ada di kota singkawang, kongsi dagang cina juga berkembang. Salah satu yang mampu membangun perusahaan dagang adalah keluarga Tjhia. Keluarga yang dikenal sebagai marga Thjia memiliki pelabuhan ekspor di tepi sungai singkawang. Rumah dagang yang digunakan sebagai kantor dan tempat tinggal masih ada hingga saat ini. Rumah ini oleh masyarakat Singkawang disebut sebagai rumah Thia, dalam bahasa Hakka Singkwang disebut rumah besar.

Saya kali ini berkesempatan merekam dan mengetahui lebih banyak tentang rumah keluarga Thjia. Saya sebagai videografer saya bergabung dengan tim Balai Pelestarian XII Kalimantan Barat membuat film yang menggali kehidupan dan budaya Tionghoa kota Singkawang melalui rumah Thjia. Program ini merupakan program pencatatan warisan budaya Tionghoa di Kota Singkawang. Selain rumah Thjia, keberadaan barongsay dan pertunjukkan boneka wayang gantung turut menjadi perhatian kami.

Masa itu keluarga Thjia telah memiliki kantor dagang yang disebut Thjia Thiap Seng. Memiliki hubungan dagang dengan pedagang belanda, pelabuhan Singapura dan pelabuhan di negeri Tiongkok. Arsitektur rumah Thjia merupakan arsitektur khas rumah saudagar tionghoa, dengan beberapa pengaruh arsitetur barat negeri Belanda. Ruangan besar di depan menjadi aula pertemuan dan tempat menerima tamu. Aula ini selalu ramai dengan kedatangan kolega dan tamu dagang dari seluruh negeri. Dibagian tengah terdapat selasar terbuka yang menjadi halaman bercengkerama bagi keluarga. Persisi di depannya terdapat ruangan sembahyang yang berisi patung-patung dewa dan altar persembahan. Pada ruang sembayang terdapat altar yang berisi penyimpanan abu leluhur. Setiap tahun keluarga selalu datang untuk memberikan penghormatan dan bersembahyang dio depan altar. Sambil membakar dupa sesekali bunyi gemerincing lonceng dan beduk mengiringi doa. Kebiasaan ini sudah berlangsung turun temurun sejak jaman dahulu. Bangunan menggunakan kayu ulin. Berbentuk balok balok besar yang saling menopang. Ciri khasnya menggunakan jendela yang relatif besar. Ini disebabkan iklim tropis singkawang sehingga membuat sirkulasi udara semakin baik. Di depan rumah besar merupakan dermaga yang terletak di tepian sungai. Dermaga itu dahulu disandari oleh banyak kapal dagang dari berbagai wilayah. Oleh karena itu rumah besar Thjia juga memiliki kamar penginapan bagi para pedagang yang datang.

Saat ini keluarga Thjia banyak tersebar ke berbagai wilayah. Ada yang berdagang di kota Jakarta. Bertepatan dengan tradisi sembahyang kubur dan cap go meh rumah Thjia ramai dikunjungi kerabat. Setiap tahun mereka datang untuk bersembahyang di altar rumah Thjia sebagai penghormatan terhadap leluhur mereka. Selain itu kerabat keluarga selalu mengadakan pertemuan keluarga dan bermusyawarah untuk keberlanjutan marga Thjia. Perkumpulan keluarga Thjia sangat besar sehingga mereka membuat struktur pengurus yang mengelola berbagai kebutuhan dan warisan budaya keluarga. Saat ini rumah keluarga Thjia dikelola oleh salah satu generasi keempat, yaitu Thia Tiam Chung. Beliau ditunjuk untuk merawat rumah besar ini. Menurut pak Thjia Tiam, dahulu rumah besar ini diperuntukkan juga untuk tempat tinggal anak-anak keluarga besar Thjia yang terdiri dari tujuh saudara. (ca)


(Disclaimer: Tulisan ini adalah opini penulis didukung oleh data dan pendapat narasumber yang ditemui. Perbedaan pendapat atau sudut pandang mungkin saja terjadi. Kisah ini membagikan catatan perjalanan ke berbagai tempat, silahkan menikmati.)

No comments:

Banner Pop-up